HKBP NOMMENSEN: KAMPUS PESTA, BUKAN KAMPUS PRESTASI

Ilustrasi/instrumentasi.com
Ilustrasi/instrumentasi.com

MEDAN, Instrumentasi.com — Pendidikan tinggi seharusnya menjadi kawah candradimuka. Di tempat itu mahasiswa ditempa, intelektual diasah, dan kualitas sumber daya manusia ditingkatkan. Namun realitanya, Universitas HKBP Nommensen Medan hari ini justru lebih sibuk mengejar “kesenangan sesaat”.

Pimpinan universitas dengan mudah mencairkan anggaran milyaran rupiah. Mereka menggunakan dana itu untuk konser kampus, festival, lomba, dan branding di media sosial. Selain itu, panitia memasang spanduk megah, membangun panggung mewah, dan mengundang artis ibu kota. Semua kegiatan itu bertujuan menciptakan konten 15 detik yang viral dengan tujuan menarik mahasiswa baru.

Baca juga : Arya Sandhiyudha Daftar Magister Pertama ITSI, Dukung SDM Sawit Unggul

 

Sementara itu, fasilitas dasar di kampus justru terbengkalai. AC di ruang kuliah banyak yang mati. Proyektor sudah rusak. Laboratorium minim alat praktik. Akibatnya, praktikum hanya menjadi teori karena “alatnya belum ada anggarannya”.

Tidak hanya itu, universitas mewajibkan mahasiswa mempublikasikan jurnal internasional berbayar. Akan tetapi kampus tidak menyediakan dana sehingga mahasiswa harus menanggung biaya secara mandiri. Lebih parah lagi, pihak kampus mengabaikan ruang aspirasi mahasiswa. Pimpinan membekukan pembentukan BEM Universitas dan sejumlah BEM Fakultas. Oleh karena itu, muncul pertanyaan besar: apa sebenarnya prioritas utama pimpinan universitas?

Kampus lupa tugas utamanya. Seharusnya kampus mencerdaskan, bukan sekadar menghibur. Kesenangan sesaat itu bersifat candu. Memang benar, yayasan dan rektorat mendapat tepuk tangan hari ini. Akan tetapi, empat tahun kemudian lulusannya tidak siap kerja. Lalu siapa yang rugi? Sudah pasti mahasiswa HKBP Nommensen yang membayar UKT dan BOP.

Baca juga: Polres Humbahas Ringkus Pria Bawa Sabu dan Ganja di Onan Ganjang

Surya Palohisme” Diluncurkan di Medan, Buku Hadiah Ulang Tahun ke-75

Sebab, acara wisuda yang megah dan kegiatan pemborosan anggaran untuk hura-hura tidak ada artinya jika ijazah yang dipegang tidak bernilai. Foto bersama artis memang akan hilang dari galeri. Namun ilmu dan fasilitas yang layak akan dipakai mahasiswa puluhan tahun ke depan.

Dengan demikian, mahasiswa dan publik menuntut perubahan. “Hentikan pesta. Bangun kampus. Cetak mahasiswa berkualitas.” Negara ini tidak butuh lulusan yang jago selfie di acara kampus. Sebaliknya, negara butuh lulusan yang mampu menyelesaikan masalah bangsa. (*)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *