Medan, Instrumentasi.com -– Koordinator Nasional Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KORNAS JAM PMII) Hasan Basyri Simanjuntak menilai kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode saat ini tidak layak dilanjutkan.
Pernyataan itu disampaikan Hasan menyusul kondisi internal PBNU yang dinilai penuh kegaduhan menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, akhir Agustus 2026.
“Kami mencermati Muktamar NU ke-35 sebagai ruang konsolidasi dan pembenahan internal. Kepemimpinan PB NU selama ini telah menciptakan suasana kegaduhan dan memunculkan kebisingan. Dampaknya meluas sampai ke daerah-daerah. Ini sangat disayangkan,” ujar Hasan di Medan, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Hasan, NU seharusnya menjadi organisasi teladan yang damai dan menjadi rujukan dalam bernegara. Namun kenyataannya justru sebaliknya.
“Kami melihat PBNU periode kepemimpinan sekarang ini sudah tidak layak untuk diteruskan. Semua yang terlibat konflik internal PBNU tersebut sadar diri, tahu diri. Bayangkan sulitnya mereka memutuskan satu agenda, baik kapan Muktamar dan di mana Muktamar yang dipertontonkan,” tegasnya.
Hasan juga menyinggung peran Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. Ia menyebut Zulfa sebagai salah satu tokoh yang berupaya menggulingkan kepemimpinan terpilih.
“Salah satunya sosok Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. Saya kira beliau salah satu tokoh yang berupaya mengkudeta kepemimpinan KH Gus Yahya Staquf, namun gagal. Akhirnya PJ Ketua Umum PB NU berujung islah,” katanya.
Hasan mendorong Pengurus Cabang NU se-Indonesia dan para kiai bersikap tegas dalam memilih pemimpin baru di Muktamar nanti.
“Kami berharap PC NU se-Indonesia dan para kiai sangat aspiratif dan melihat sosok ke depan dengan jernih. Bersihkan dari sosok yang tidak mampu menciptakan suasana rukun dan damai,” pungkasnya. (Roy)












