Pakpak Bharat, Instrumentasi.com —Pekerjaan peningkatan jalan provinsi ruas Simpang Sukaramai – Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, senilai sekitar Rp17,6 miliar, kini menjadi sorotan tajam publik.
Meski masih dalam tahap pengerjaan awal, sejumlah bagian jalan yang baru selesai dihampar hotmix terlihat berongga, bergelombang, dan bahkan mulai terkelupas di beberapa titik.
Pantauan di lokasi pada Selasa (6/10/2026) menunjukkan permukaan jalan di sejumlah titik belum terlihat rata dan masih meninggalkan bekas roda alat berat.
Bahkan, beberapa bagian lapisan hotmix tampak mulai terkelupas, sehingga menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung di lapangan.
Selain itu, pengaspalan ketika hujan dan permukaan jalan dalam kondisi basah berpotensi memengaruhi temperatur material, proses pemadatan, serta ikatan antara aspal dan agregat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, pelaksanaan pekerjaan tersebut perlu dipastikan benar-benar sesuai spesifikasi teknis dan dokumen kontrak yang telah disepakati bersama sebelumnya.
J. Sinamo, warga sekitar, mengaku kecewa melihat kondisi hasil pekerjaan tersebut. Menurutnya, anggaran pembangunan yang mencapai miliaran rupiah semestinya sebanding dengan kualitas jalan yang dihasilkan.
“Biayanya belasan miliar rupiah, tetapi hasil hotmix seperti ini. Masih banyak yang berongga, bergelombang, dan sudah ada yang terkelupas,” kata J. Sinamo.
Ia menyebut pekerjaan hotmix pada ruas tersebut bahkan telah dilakukan sebanyak dua kali pengulangan. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah titik yang hasilnya belum maksimal dan belum rata.
“Kalau sudah dikerjakan dua kali, seharusnya hasilnya lebih baik. Kami berharap pekerjaan ini benar-benar diawasi dan diperiksa kualitasnya secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurut J. Sinamo, kondisi permukaan jalan yang berongga dan bergelombang tidak boleh dibiarkan apabila terbukti tidak sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan jalan.
Sebab, celah pada permukaan jalan dikhawatirkan menjadi tempat masuknya air hujan ke lapisan konstruksi bawah dan mempercepat kerusakan jalan.
Oleh karena itu, ia meminta pihak terkait segera turun melakukan pemeriksaan terhadap kualitas pekerjaan, termasuk memastikan kepadatan dan mutu lapisan hotmix tersebut.
“Kalau memang tidak sesuai spesifikasi, bagian yang bermasalah harus diperbaiki. Kalau perlu dibongkar dan dikerjakan kembali supaya masyarakat tidak dirugikan,” katanya.
J. Sinamo berharap pengawasan terhadap proyek tersebut diperketat agar anggaran pemerintah yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur benar-benar menghasilkan jalan berkualitas dan dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Harapan kami, jalan ini segera diperbaiki agar hasil pembangunan benar-benar sesuai dengan harapan masyarakat dan aman digunakan setiap hari,” ujarnya.
Kondisi tersebut terpantau pada Selasa (6/10/2026), mulai dari Dusun Santar Jehe hingga Dusun Santar Julu, Desa Silima Kuta, Kabupaten Pakpak Bharat dengan kerusakan cukup parah.
Ruas jalan yang mengalami kondisi berongga dan bergelombang diperkirakan mencapai sekitar satu kilometer dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan yang melintas.
Sementara itu, dugaan pengaspalan saat hujan juga perlu diverifikasi melalui pemeriksaan teknis independen oleh pihak berwenang agar hasilnya objektif dan transparan.
Pemeriksaan tersebut dapat mencakup job mix formula (JMF), temperatur hotmix saat tiba di lokasi, temperatur ketika dihampar dan dipadatkan, tingkat kepadatan, serta hasil pengujian mutu lapisan aspal.
Dalam pekerjaan konstruksi jalan, penyedia jasa bertanggung jawab penuh memenuhi mutu pekerjaan sebagaimana dipersyaratkan dalam kontrak yang telah ditandatangani.
Hingga berita ini ditayangkan, PPK proyek tersebut, Daud Sembiring, yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, belum memberikan respons atau tanggapan resmi apapun.(HM)












