Rakernas APEKSI di Medan: Jangan Cuma Jadi Kertas

Rico Waas saat membuka Rakernas XVIII APEKSI di Grand City Hall Medan, Rabu (1/7/2026) malam
Rico Waas membuka Rakernas XVIII APEKSI di Grand City Hall Medan, Rabu 1 Juli 2026 malam (Foto: Jogi/instrumentasi.com)

Medan, Instrumentasi.com — Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak seluruh kepala daerah anggota Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) menjadikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII sebagai momentum melahirkan langkah nyata.

Menurutnya, forum ini tidak boleh berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas yang tidak memberikan dampak langsung bagi masyarakat perkotaan.

Dorongan itu disampaikan Rico Waas saat membuka Rakernas XVIII APEKSI di Grand City Hall Medan, Rabu (1/7/2026) malam. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto secara resmi membuka kegiatan tersebut.

Turut hadir dalam pembukaan, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, Ketua Dewan Pengurus APEKSI Eri Cahyadi, para wali kota se-Indonesia, jajaran Dewan Pengurus APEKSI, Forkopimda, Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, serta tamu undangan. Pembukaan ditandai dengan penabuhan Gordang Sambilan oleh Bima Arya didampingi Rico Waas, Eri Cahyadi, dan Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam.

Mengawali sambutannya, Rico Waas menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia mengaku bangga karena Medan dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan wali kota se-Indonesia.

“Selamat datang di Kota Medan. Kami, Pemerintah Kota Medan, benar-benar merasa terhormat Bapak dan Ibu bisa hadir. Kami ingin menjamu Bapak dan Ibu sebagai tuan rumah yang baik,” ujarnya.

Rangkaian Kegiatan Dimulai Sejak 28 Juni.

Rico Waas menjelaskan rangkaian Rakernas XVIII APEKSI telah dimulai sejak 28 Juni dan berlangsung hingga 4 Juli 2026. Selama sepekan, panitia menggelar berbagai kegiatan. Di antaranya Youth City Changers (YCC), Forum Pangan, Forum Lingkungan Hidup, Forum Komunikasi dan Informatika, Forum Bappeda, Forum Investasi, Ladies Program, hingga Indonesia City Expo.

Mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”, Rico Waas berharap seluruh forum yang berlangsung selama Rakernas mampu menghasilkan solusi konkret serta rekomendasi strategis terhadap berbagai persoalan perkotaan yang dihadapi saat ini, mulai dari ketahanan fiskal, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pembangunan infrastruktur, hingga mitigasi bencana.

Ia menegaskan hasil diskusi tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau rekomendasi semata tanpa ditindaklanjuti dengan program kerja nyata di daerah.

“Kami berharap forum ini tidak berakhir di atas kertas atau hanya menjadi wacana. Komitmen yang dibangun harus menjadi aksi nyata dan diimplementasikan di kota masing-masing agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Rico Waas juga berharap rekomendasi Rakernas dapat menjadi masukan bagi pemerintah pusat, kementerian, kementerian koordinator, hingga DPR RI. Dengan demikian, berbagai kebutuhan daerah dapat diakomodasi dalam kebijakan nasional.

Pemko Medan Luncurkan Inovasi QRESTO.

Dalam kesempatan itu, Rico Waas memperkenalkan inovasi digitalisasi perpajakan restoran QRESTO. Pemko Medan mengembangkan sistem ini bersama Bank Indonesia dan Bank Sumut.

Melalui sistem tersebut, pembayaran pelanggan di restoran langsung terbagi secara otomatis. Pajak restoran sebesar 10 persen pun langsung masuk ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD). Menurut Rico, inovasi ini meningkatkan transparansi sekaligus menutup potensi kebocoran penerimaan pajak daerah.

Bima Arya: Solusi Ada di Daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengatakan setiap kepala daerah memiliki ujian berbeda. Tantangan itu meliputi pandemi, bencana, penyesuaian fiskal, hingga dinamika media sosial.

Menurutnya, kepala daerah saat ini menghadapi empat tantangan utama. Pertama, dinamika geopolitik global. Kedua, pengawalan kebijakan strategis nasional. Ketiga, pemenuhan janji kampanye. Keempat, perkembangan algoritma media sosial yang memengaruhi persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.

“Solusi atas berbagai tantangan itu sesungguhnya ada di daerah. Praktik-praktik terbaik ada di lingkungan kawan-kawan kita sendiri,” ujar Bima.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah kota terus berinovasi dalam meningkatkan PAD. Selain itu, daerah juga harus memanfaatkan skema pembiayaan alternatif melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta membangun city branding yang kuat untuk menarik investasi.

Bima juga mengapresiasi berbagai inovasi yang lahir dari kota anggota APEKSI, termasuk keberhasilan sejumlah daerah meningkatkan PAD melalui terobosan.

Bobby Usul Rekomendasi ke Provinsi

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengapresiasi Pemko Medan sebagai tuan rumah Rakernas XVIII APEKSI. Ia berharap forum tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.

Bobby juga mengapresiasi peran APEKSI sebagai motor penggerak solusi bagi pemerintah kota. Namun, ia memberi masukan agar rekomendasi tidak hanya ditujukan kepada pemerintah pusat.

“Saya perhatikan rekomendasi APEKSI hampir selalu ditujukan kepada Pemerintah Pusat atau kementerian terkait. Karena saya sekarang di provinsi, saya menyarankan agar ke depan APEKSI juga melayangkan rekomendasi kepada pemerintah provinsi melalui Komisariat Wilayah (Komwil) masing-masing,” ujar Bobby.

Menurutnya, langkah itu penting karena tidak semua kota memiliki kemampuan fiskal dan tantangan yang sama dalam pembangunan. Dengan demikian, pemerintah provinsi dapat menjadi mitra strategis dalam menjembatani kebutuhan kabupaten/kota dengan pemerintah pusat secara berkelanjutan.

Eri Cahyadi: Tidak Ada Kota Tertinggal.

Ketua Dewan Pengurus APEKSI Eri Cahyadi menegaskan Rakernas bukan agenda seremonial. Forum ini menjadi wadah memperkuat sinergi antarkota dalam menghadapi tantangan nasional yang semakin kompleks, seperti pengurangan transfer daerah, beban belanja pegawai, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga penguatan PAD.

Wali Kota Surabaya itu mengajak seluruh anggota APEKSI saling berbagi pengalaman dan inovasi demi mewujudkan pembangunan kota yang merata.

“Tidak ada kota yang tertinggal dan tidak ada kota yang paling baik di antara kita. Ketika ada kelebihan di satu kota, kelebihan itu diberikan untuk membantu kota yang lain. Itulah semangat APEKSI,” ujar Eri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *