Hujan Deras Lagi, Jalan Panggugunan-Pulogodang Terputus Dihantam Air Bah Bukit Pinapan

Aek Napa membesar hingga memutus jalan menuju Pakkat, Warga kewalahan menyeberangi sungai, Minggu 2 Agustus 2026 (Foto: Dok/instrumentasi.com)
Aek Napa membesar hingga memutus jalan menuju Pakkat, Warga kewalahan menyeberangi sungai, Minggu 2 Agustus 2026 (Foto: Dok/instrumentasi.com)

HUMBAHAS, Instrumentasi.com –– Hujan deras yang mengguyur Humbang Hasundutan sejak Minggu sore (2/8/2026) kembali memutuskan jalan penghubung Desa Panggugunan dan Desa Pulogodang.

Selanjutnya, hujan terus mengguyur hingga Senin siang (3/8/2026) sampai malam. Akibatnya, arus air bah dari Bukit Pinapan menghantam badan jalan yang sebelumnya telah diperbaiki pemerintah.

Jalan tersebut merupakan titik rawan bencana. Pada November 2025 lalu, lokasi yang sama juga mengalami longsor besar dan menelan korban jiwa dari kedua desa. Oleh karena itu, warga kini kembali diliputi rasa cemas.

Anehnya, pada hari biasa debit air Sungai Napa terlihat kecil. Namun, ketika hujan turun, air dari Dolok Pinapan berubah menjadi banjir bandang. Dengan demikian, warga menyebutnya sebagai “air bah” yang turun langsung dari bukit.

Baca juga: DPR RI Serap Aspirasi PendKomisi Xidikan di Tebing Tinggi

TERPUTUS LAGI! Jembatan Dusun Siatas Hanyut, Warga Gotong Royong Bangun Sendiri Tanpa Bantuan Pemerintah

Berdasarkan pantauan di lapangan, hujan mulai turun sejak Minggu siang hingga sore. Akibatnya, air deras dari Bukit Pinapan menggerus tepi Sungai Napa. Kemudian, arus tersebut menghantam dan mengikis jalan yang beberapa bulan lalu baru selesai ditimbun Pemerintah Kabupaten Humbahas.

Kondisi jalan di lokasi itu memang belum permanen. Pihak terkait hanya menimbun bekas longsoran dengan bebatuan dan memasang gorong-gorong. Karena itu, timbunan tersebut tidak mampu menahan derasnya arus Sungai Napa saat hujan lebat.

Selain itu, struktur tanah di sekitar Dolok Pinapan masih labil. Material bekas longsoran yang bercampur batu dan lumpur mudah terbawa arus. Akibatnya, setiap kali hujan turun, ancaman banjir susulan selalu mengintai.

Warga Dusun Lumban Sihotang mengaku sudah terbiasa menghadapi situasi ini. “Bahkan kami pun bila hujan turun akan segera mengungsi ke tempat yang aman di luar zona merah lereng Bukit Pinapan,” kata M. Sihotang.

Aek Napa yang sewaktu-waktu mengecil dan pada musim hujan dapat membesar
Lokasi Pasca longsor Pinapan – Aek Napa yang sewaktu-waktu mengecil dan pada musim hujan dapat membesar di Panggugunan-Pulogodang Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbahas, Senin 3 Agustus 2026 (Foto: Dok/instrumentasi)

Menurutnya, kewaspadaan warga sangat tinggi. Apabila musim hujan tiba, mereka langsung meninggalkan rumah. “Kalau hujan turun, kami cepat-cepat pergi ke rumah famili. Kalau sudah reda hujan kami kembali ke rumah. Lihat cuaca lah,” tandasnya.

Sementara itu, pantauan Media Instrumentasi.com menunjukkan Dusun Lumban Sihotang hingga Dusun Hutaraja termasuk zona rawan bencana. Bekas longsoran Dolok Pinapan sewaktu-waktu dapat mengeluarkan air bah bercampur batu besar.

Lebih lanjut, putusnya jalan ini berdampak langsung pada mobilitas warga. Aktivitas ekonomi, pendidikan, dan akses kesehatan ke dua desa menjadi terhambat. Dengan kata lain, warga kembali terisolasi setiap kali hujan turun.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-109,Fokus Wujudkan Kota ReligTebing Tinggiius dan Sejahtera

Rikardo Simamora: Jangan Asal Tulis Sejarah Humbahas, Semua Pejuang Wajib Dicatat

Hingga saat ini, warga masih berharap adanya perbaikan permanen dari Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan. Mereka meminta pemerintah membangun jalan dengan konstruksi yang lebih kuat, bukan sekadar penimbunan.

Padahal, jalan tersebut merupakan akses utama menuju arah Pakkat. Jika terus terputus, distribusi hasil pertanian warga juga akan terganggu. Oleh sebab itu, perbaikan mendesak perlu segera dilakukan.

Namun, hingga berita ini diturunkan belum ada satu pun pihak Dinas PUTR Humbahas yang memberikan klarifikasi terkait putusnya jalan kabupaten tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.

Sebagai penutup, warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan temporer. Sebab, tanpa penanganan serius di hulu Bukit Pinapan dan pembangunan infrastruktur permanen, bencana serupa akan terus berulang setiap musim hujan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *