Rutan Serang
Serang, instrumentasi.com — Dugaan kebobrokan sistem yang terjadi di Rutan Kelas IIB Serang menuai sorotan. Bahkan disebut terjadi praktik pungli dengan jumlah yang fantastis. Kejadian dimaksud disebut telah berlangsung sejak tahun 2023.
Investigasi mendalam mengungkap dugaan praktik penyiksaan, pungutan liar, penyewaan ponsel, hingga fasilitas kamar eksklusif berbayar di Rutan Kelas IIB Serang. Praktik tersebut diduga berlangsung di bawah kendali oknum pejabat dan terungkap dari keterangan saksi kunci, Josharius, Selasa (21/4/2026).
Sorotan mengarah kepada Panji, mantan Kasubsi Pelayanan Tahanan, yang diduga mengatur berbagai praktik tersebut pada masa kepemimpinan Karutan Prayoga hingga digantikan Marthen Butar-Butar.
Menurut Josharius, terdapat pungutan liar yang disebut “kontrak pertama” saat tahanan baru masuk dengan tarif Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta. Tahanan yang mampu membayar disebut mendapatkan perlakuan lebih baik, sementara yang tidak mampu diduga mengalami kekerasan fisik.
“Tahanan yang tidak mampu membayar diduga dipukuli dan dianiaya hingga babak belur,” ujar Josharius.
Selain itu, lanjutnya, terdapat pungutan mingguan yang disebut “kontrak nginap” sebesar Rp70.000 per orang. Tahanan yang tidak membayar disebut tidak mendapatkan fasilitas dasar seperti tempat tidur dan harus menjalani kondisi yang tidak layak di dalam rutan.
Praktik lain yang terungkap adalah penyewaan telepon seluler ilegal. Warga binaan pemasyarakatan (WBP) disebut harus membayar Rp1,2 juta sebagai biaya awal untuk menggunakan ponsel, kemudian dikenakan biaya Rp300 ribu setiap 10 hari.
Menurut keterangan saksi, penggunaan ponsel tersebut tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga diduga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas terlarang, seperti pengendalian peredaran narkoba, komunikasi dengan pihak luar terkait suap atau pengurangan hukuman, dugaan perdagangan seks yang melibatkan WBP perempuan, serta penipuan terhadap masyarakat luar.
Kejadian dimaksud, ungkap Josharius, dari tahun 2023 sampai 2025 saya ketahui.
Selain itu, terdapat fasilitas khusus berupa kamar eksklusif yang dikenal sebagai “Kamar 14” dengan tarif Rp5 juta per bulan per orang. Kamar ini disebut hanya dapat diakses oleh narapidana tertentu yang memiliki kemampuan finansial, dengan fasilitas yang jauh lebih baik dibandingkan kamar lainnya.
Dalam aspek hukum, muncul dugaan manipulasi yang melibatkan seorang petugas bernama Asep. Berdasarkan informasi dari Pengadilan Negeri Serang, saat keluarga Josharius melakukan klarifikasi karena putusan Mahkamah Agung tidak kunjung diterima, terungkap adanya dua orang yang mengaku sebagai kerabat untuk membatalkan upaya hukum kasasi. Namun, pihak tersebut disebut bukan keluarga yang sah.
Dalam pertemuan dengan media, Asep juga disebut duduk jauh dari meja rapat, seolah tidak terlibat, meskipun diduga memiliki peran dalam praktik tersebut.
Dugaan pelanggaran serius lainnya terjadi saat pertemuan antara wartawan dan pihak rutan. Sejumlah orang dari luar yang disebut sebagai mantan narapidana diduga dapat masuk ke dalam area rutan tanpa prosedur ketat dan melakukan intimidasi terhadap wartawan.
Ancaman yang dilontarkan antara lain meminta wartawan yang memviralkan pemberitaan melalui media sosial untuk menghapus berita terkait kondisi rutan. Bahkan disebutkan, pemberitaan terkait penggunaan ponsel berdampak pada terganggunya komunikasi pihak di dalam rutan.
Akibat intimidasi tersebut, seorang wartawan disebut menghapus berita yang telah dipublikasikan. Peristiwa ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap keamanan rutan serta kebebasan pers.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim instrumentasi.com telah meminta klarifikasi kepada Panji melalui pesan WhatsApp pribadi. Poin yang ditanyakan meliputi pertemuan dengan media, dugaan keterlibatan pihak luar dalam intimidasi, posisi Asep dalam pertemuan, dugaan penandatanganan surat penolakan eksekusi, serta isu terkait perlakuan terhadap WBP perempuan.
Namun, yang bersangkutan hanya memberikan tanggapan melalui sambungan telepon. Ia menyebut telah dimutasi dan mempertanyakan waktu serta detail kejadian, termasuk jumlah wartawan yang hadir.
Hingga berita ini dikirim ke redaksi, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait. Tim instrumentasi.com masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan. (tim)












