Taput, instrumentasi.com — Pengelolaan dana usaha budidaya kentang milik BUMDes Dolok Saut di Desa Pancur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menjadi sorotan publik.
Penyebabnya, penggunaan modal usaha sebesar Rp182 juta yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2026 dinilai belum dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.
Sorotan tersebut mencuat setelah Direktur BUMDes Dolok Saut, Hemat, saat diwawancarai tim media pada Kamis (30/4/2026), menyebut hasil usaha budidaya kentang dari modal itu “hanya sekitar Rp10 juta”.
Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci apakah angka tersebut merupakan keuntungan bersih, hasil penjualan, atau sisa dana usaha.
Berdasarkan data yang dihimpun, penggunaan anggaran yang dapat diverifikasi baru sekitar Rp86 juta.
Dana itu disebut digunakan untuk pembelian bibit kentang jenis G2 sebanyak 40 kotak pada Januari 2026 dengan harga Rp1,2 juta per kotak atau total Rp48 juta.
Pengadaan alat pertanian Rp35 juta, serta sewa lahan seluas 1 hektare selama satu tahun sebesar Rp3 juta.
Dengan demikian, masih terdapat selisih anggaran sekitar Rp96 juta dari total modal Rp182 juta yang belum dijelaskan secara rinci kepada publik.
Saat dimintai lebih lanjut mengenai penggunaan sisa anggaran tersebut, termasuk biaya tenaga kerja harian orang kerja (HOK), pupuk, dan kebutuhan operasional lainnya, pihak BUMDes belum memberikan uraian detail maupun dokumen pendukung.
Selain itu, harga pembelian bibit kentang jenis G2 sebesar Rp1,2 juta per kotak juga memunculkan pertanyaan.
Nilai tersebut dinilai perlu dibandingkan dengan harga pasar guna memastikan tidak terjadi selisih harga dalam proses pengadaan.
Kondisi ini memunculkan desakan agar pengelolaan dana BUMDes yang bersumber dari Dana Desa dilakukan secara transparan dan akuntabel, mengingat dana tersebut merupakan bagian dari keuangan publik yang wajib dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. (Sofian Candra Lase)












