Medan, Instrumentasi.com -– Koordinator Nasional Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KORNAS JAM PMII), Hasan Basyri Simanjuntak, mengingatkan seluruh kader Nahdlatul Ulama (NU) di Sumatera Utara agar menjaga marwah organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar NU.
Hasan menegaskan Muktamar NU harus menjadi momentum refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan organisasi dalam menjalankan peran keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Menurutnya, forum tersebut harus menghasilkan pemimpin yang religius, bermoral, serta berintegritas.
“Muktamar NU adalah momentum kita semua untuk merefleksi dan mengevaluasi perjalanan NU. Kita butuh pemimpin yang religius, bermoral, dan berintegritas,” ujar Hasan Basyri di Medan, Selasa (14/7/2026).
Ia juga mengingatkan seluruh kader agar mengedepankan etika dan akhlak dalam membangun komunikasi politik menjelang Muktamar. Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh ditempuh dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai organisasi.
Hasan secara khusus menyoroti aktivitas sejumlah kader NU di Sumatera Utara yang menurutnya aktif menjadi tim sukses menjelang Muktamar. Ia menyebut nama Hasan Basri Sagala, Jarul Lubis, dan Mulia Banurea.
Menurutnya, seluruh pihak tetap diperbolehkan melakukan silaturahmi dan komunikasi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), namun harus mengedepankan akhlak yang baik.
“Kami meminta semua pihak menjaga hal-hal yang dapat merusak nilai-nilai di tubuh Nahdlatul Ulama. Silakan memengaruhi dan menjalin silaturahmi di PCNU dengan mengedepankan akhlak yang baik,” katanya.
Hasan juga mengingatkan agar tidak menggunakan iming-iming, janji politik, maupun transaksi politik demi memenangkan calon tertentu dalam Muktamar.
“Jangan hanya ingin memenangkan calon mereka, lalu melakukan iming-iming dan janji politik bahkan transaksi politik yang dapat merusak NU,” tegasnya.
Selain itu, Hasan menilai calon yang didukung oleh tim sukses tersebut merupakan bagian dari dinamika konflik yang masih terjadi di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Apalagi calon yang mereka bawa ke Sumut ini bagian dari konflik di tubuh PBNU sekarang. KH Zulfa Mustofa kemarin coba merebut jabatan Ketua Umum PBNU, namun gagal,” ujarnya.
Ia mengaku khawatir apabila figur tersebut terpilih, kondisi internal NU berpotensi kembali mengalami perpecahan. Padahal, menurutnya, semangat Muktamar adalah memperkuat persatuan sekaligus mengembalikan citra NU di tengah masyarakat.
“Saya tidak dapat membayangkan jika beliau terpilih. NU akan terbelah kembali. Padahal semangat Muktamar ini untuk mengembalikan citra NU di tengah masyarakat,” pungkas Hasan.
JAM PMII berharap seluruh rangkaian proses Muktamar NU, khususnya di Sumatera Utara, dapat berlangsung dengan menjunjung tinggi adab, akhlak, integritas, dan semangat persatuan, tanpa diwarnai praktik politik yang dinilai mencederai nilai-nilai jam’iyah. (roy)












