Petugas PTPN IV Tertembak Panah Saat Gagalkan Pencuri Sawit

Managemen PTPN IV Regional 2 saat Menjenguk Korban.
Managemen PTPN IV Regional 2 saat Menjenguk Korban di Rumah Sakit Murni Teguh Medan. (Foto: Royzicki/instrumentasi.com)

Medan, Instrumentasi.com -–Seorang petugas keamanan PTPN IV Regional 2, Sindi Prayoga, mengalami luka di dada akibat anak panah. Peristiwa itu terjadi ketika korban menggagalkan pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Blok 17F Afdeling I Kebun Adolina, Sabtu (27/6/2026) sekitar pukul 09.05 WIB.

Saat ini korban menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Selain itu, pihak perusahaan telah melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Manajer Kebun dan PKS Adolina, Dennis Nichova, menjelaskan secara rinci kronologi kejadian tersebut. Awalnya, korban melaksanakan patroli rutin di areal perkebunan.

Di tengah patroli, korban menemukan pelepah kelapa sawit patah. Temuan itu mengindikasikan adanya aktivitas pemanenan ilegal. Kemudian, saat menyisir lokasi, pelaku menyerang korban dari balik tanaman kelapa sawit.

“Pelaku melepaskan empat anak panah ke arah petugas. Satu anak panah mengenai dada sebelah kanan korban. Meskipun terluka, korban tetap mengejar pelaku. Namun pelaku melarikan diri ke arah permukiman warga yang berbatasan dengan areal kebun,” kata Dennis, Senin (6/7/2026).

Tidak hanya menyerang petugas, pelaku yang diduga kuat bagian dari kelompok pencuri itu juga merusak sepeda motor milik korban sebelum melarikan diri.

Dalam kondisi terluka, Sindi Prayoga segera menghubungi rekan-rekannya untuk meminta pertolongan. Setelah itu, tim pengamanan datang ke lokasi dan mengevakuasi korban.

Korban mendapat penanganan awal di lokasi kejadian. Selanjutnya, tim medis segera merujuk korban ke RS Grand Medistra sekitar pukul 11.00 WIB.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal dokter di RS Grand Medistra, tim medis kemudian merujuk korban ke RS Murni Teguh Medan pada malam harinya.

Akhirnya, korban tiba di rumah sakit tujuan sekitar pukul 23.30 WIB. Pada Minggu (28/6/2026) sekitar pukul 01.20 WIB, tim dokter melakukan tindakan operasi.

Dennis mengatakan, manajemen PTPN IV Regional 2 telah menyerahkan laporan resmi kepada aparat kepolisian. Selain itu, pihaknya juga menyerahkan barang bukti dan informasi pendukung guna mempercepat penyelidikan.

“Kami percaya aparat penegak hukum menangani perkara ini secara profesional sehingga memberikan rasa aman bagi pekerja maupun masyarakat,” ujarnya.

Pelaksana Harian Kepala Bagian Sekretariat dan Hukum PTPN IV Regional 2, Hwin Dwi Putera, menilai insiden tersebut menunjukkan tingginya tantangan pengamanan di Kebun Adolina. Pasalnya, kebun itu mengelola areal seluas 8.945 hektare.

Dari luas tersebut, 8.188,90 hektare merupakan tanaman menghasilkan. Lahan itu berbatasan langsung dengan enam kecamatan serta 19 desa di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Deli Serdang.

Menurut Hwin, luasnya areal perkebunan dan banyaknya akses menuju permukiman warga menantang upaya pengamanan aset perusahaan. Meski demikian, pencurian yang disertai kekerasan terhadap petugas harus mendapat penegakan hukum tegas.

“Ketika pencurian disertai kekerasan terhadap petugas, persoalan ini harus ditangani tegas agar memberikan efek jera,” tegasnya.

Data PTPN IV Regional 2 mencatat kehilangan TBS di Kebun Adolina sepanjang 2025 mencapai 76.697 kilogram. Kehilangan tertinggi terjadi pada Juni sebanyak 12.104 kilogram.

Sementara itu, hingga Mei 2026, kehilangan TBS mencapai 65.031 kilogram. Rinciannya meliputi Januari 8.231 kilogram, Februari 9.619 kilogram, Maret 12.279 kilogram, April 17.258 kilogram, dan Mei 17.644 kilogram.

Secara akumulatif, selama 17 bulan terakhir kehilangan TBS mencapai 141.728 kilogram atau rata-rata 8.336 kilogram setiap bulan. Menurut Hwin, kondisi tersebut menekan produktivitas kebun. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini akan mengganggu pencapaian target produksi.

“Pencurian TBS tidak hanya menyebabkan kehilangan hasil panen, tetapi juga berdampak pada operasional perusahaan, produktivitas, dan perlindungan aset negara. Oleh karena itu, kami memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum agar setiap tindak pidana tertangani secara profesional,” katanya.

Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto, menyampaikan keprihatinan atas insiden yang menimpa petugas keamanan tersebut. Ia menegaskan keselamatan pekerja menjadi prioritas utama perusahaan. Selain itu, perusahaan tidak menoleransi segala bentuk kekerasan terhadap personel yang bertugas.

“Kami memastikan korban memperoleh penanganan medis terbaik serta pendampingan selama proses pemulihan dan proses hukum berlangsung. Kami juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum agar pelaku segera diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Budi.

Terakhir, ia menambahkan, PTPN IV Regional 2 memperkuat sistem pengamanan. Langkah itu meliputi peningkatan patroli, pemetaan wilayah rawan, optimalisasi koordinasi dengan aparat keamanan, serta kolaborasi dengan masyarakat sekitar perkebunan.

“Kami berharap seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan kawasan perkebunan. Dengan lingkungan yang kondusif, kita dapat melindungi pekerja, menjaga keberlangsungan produksi, sekaligus memastikan aset negara tetap terlindungi,” tutupnya. (Roy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *