Jalan Pulogodang – Panggugunan Masih Darurat, Warga: Hujan Turun Air Meluap

Jalan Kabupaten, Bekas Longsor Dolok Pinapan, Tampak air menyusut jika kemarau, kalau hujan meluber keluar jalan, Senin 11 Mei 2026 (Foto: Dok/Instrumentasi.com)

Humbahas, Instrumentasi.com —Longsoran Dolok Pinapan benar-benar melumpuhkan ruas Jalan Kabupaten Pulogodang – Panggugunan. Jika musim hujan material longsoran masih menutup badan jalan. Akibatnya, jalan resmi berstatus darurat.

Pertama, pantauan di lokasi memperlihatkan batu sebesar mobil menutup jalur utama. Kedua, tumpukan kerikil menutup jalur utama. Ketiga, kendaraan roda empat terpaksa antre dan melintas bergantian. Padahal, pengendara mempertaruhkan nyawa setiap kali melewati titik longsor itu.

Lebih parah lagi, air sungai meluap ke jalan setiap hujan turun. Selanjutnya, air bah itu menyeret pasir ke aspal. Kemudian, air bah menyeret batu tajam ke aspal. Alhasil, luapan air terus menggerus badan jalan dan memperbesar risiko jurang.

Sementara itu, Herbin Simanullang (45) langsung menyuarakan ketakutan warga. Herbin menegaskan pemerintah sudah mengerahkan alat berat. Namun, longsoran baru selalu turun setiap hujan deras mengguyur.

“Kalau hujan sejam saja, air langsung naik ke jalan. Batu-batu itu ikut kebawa. Kami takut mobil masuk jurang. Nyawa taruhannya!” tegas Herbin di lokasi longsoran Dolok Pinapan, Senin (11/5/2026) siang.

Begini situasi jalan jika hujan turun, jalan pulogodang-Panggugunan belum dapat dilalui, lokasi longsor Dolok Pinapan november tahun lalu. (Foto: Dok/Instrumentasi.com)

Di sisi lain, lumpuhnya jalan ini memutus urat nadi ekonomi warga. Lalu, para petani gagal mengirim hasil bumi saat air meluap. Selain itu, pedagang juga gagal mengirim hasil bumi saat air meluap. Penyebabnya jelas: gorong-gorong kecil tidak sanggup menelan debit air dari Gunung Pinapan.

Tidak hanya itu, R. br Tumanggor (61) mengkhawatirkan keselamatan anak sekolah yang setiap hari melintasi jalur maut itu. Meskipun pemerintah sudah meninjau lokasi, penanganan permanen tak kunjung datang.

“Sudah tiga kali alat berat datang, tapi cuma geser batu. Belum ada tembok penahan atau drainase. Jadi kalau hujan ya meluap lagi. Kami disuruh menunggu sampai kapan?” kecamnya.

Oleh sebab itu, warga menuntut pemerintah daerah segera membangun bronjong. Di samping itu, warga menuntut pembangunan gorong-gorong raksasa. Pasalnya, gorong-gorong yang ada sekarang tidak berdaya menahan amukan air dari gunung.

Sampai hari ini, trauma tragedi longsor Pinapan yang menelan korban jiwa masih menghantui warga. Karena itu, warga hanya meminta satu hal memperbaiki jalan sebelum jatuh korban lagi.

Sebagai peringatan keras, Hermanto Simanullang mendesak dinas terkait bertindak saat ini juga. Warga menuntut BPBD menetapkan status tanggap darurat. Warga juga menuntut Dinas PUPR menetapkan status tanggap darurat. Dengan begitu, pemerintah bisa mengerahkan semua kekuatan untuk menyelamatkan jalan.

Sampai berita ini turun, Jalan Pulogodang – Panggugunan di titik longsoran Dolok Pinapan masih berstatus darurat dengan jalan timbunan seadanya. Apabila hujan deras kembali mengguyur, jalur ini pasti putus total. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *