Aparat Hajar Massa dengan Gas Air Mata, Demo JKA di Aceh Memanas

Sekitar pukul 18.20 WIB, aparat menggempur massa dengan water cannon dan gas air mata. Massa sempat mundur, namun mereka kembali merangsek ke depan kantor gubernur. Rabu 13 Mei 2026 (Foto: Dok/Instrumentasi.com)

Banda Aceh, Instrumentasi.com — Ratusan massa dari Aliansi Rakyat Aceh mengepung Kantor Gubernur Aceh dan menggelar aksi jilid III pada Rabu (13/5/2026).

Mereka menuntut Pemerintah Aceh mencabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) secara damai tanpa kekerasan.
Selain itu, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan berbagai elemen masyarakat bergabung dalam aksi tersebut untuk menyuarakan aspirasi rakyat secara damai bersama.

Massa menilai pemerintah mengabaikan penolakan publik yang berlangsung sejak 4 Mei 2026. Oleh karena itu, kekecewaan yang menumpuk memicu bentrok pada aksi sebelumnya.

Sekitar pukul 18.20 WIB, aparat menggempur massa dengan water cannon dan gas air mata. Massa sempat mundur, namun mereka kembali merangsek ke depan kantor gubernur.
Selanjutnya, aparat kembali menyemburkan gas air mata tanpa henti. Akibatnya, kekacauan melumpuhkan lalu lintas di sekitar lokasi.

Petugas menutup total dua jalur dari arah Simpang 4 Masjid Oman. Karena itu, kemacetan panjang mengular hingga Stadion Dimurthala Lampineung. Sementara itu, jalur tersebut menjadi satu-satunya akses menuju Simpang Mesra.

Pukul 18.30 WIB, mahasiswa memblokir semua kendaraan yang hendak melintas. Mereka melarang warga masuk area karena gas air mata masih menyelimuti kawasan kantor gubernur.

Benturan dengan gas air mata membuat sejumlah peserta aksi ambruk. Kemudian, petugas membawa korban ke RSUD Meuraxa Banda Aceh untuk mendapat perawatan akibat sesak napas berat. Beberapa peserta juga mengalami luka ringan karena dorongan saat mundur tergesa.

Hingga kini, pihak berwenang belum merilis data resmi jumlah korban. Tim medis masih melakukan pendataan dan verifikasi di lapangan.

Di atas jembatan Simpang 4 Masjid Oman, massa aksi menyampaikan pengakuan dengan wajah lelah namun suara mereka tetap lantang tegas.

“Aparat menembakkan gas air mata lima kali, tiga kali ke sisi kiri dan dua kali ke sisi kanan kantor gubernur untuk memaksa pembubaran,” ujar salah satu peserta aksi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *