Ratusan Hektare Sawah di Batunagodang Siatas Rusak Diterjang Longsor dan Banjir Bandang

Petak sawah tertutup material batu dan kayu hingga tidak dapat diolah menjadi lahan pertanian hingga diperkirakan panen akan berkurang (Jasa S.Simanullang)

____________________

Humbahas, Instrumentasi.comRatusan hektare lahan persawahan dan kebun milik warga Desa Batunagodang Siatas rusak parah akibat longsor dan banjir bandang yang terjadi 2025 lalu.

Material longsoran menimbun area persawahan yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat setempat.

Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pertanian yang seharusnya telah selesai ditanami padi pada akhir Desember tahun lalu menjadi tidak dapat digarap.

Lahan persawahan warga desa Batunagodang Siatas yang rata dengan material terbawa banjir bandang dan longsor hingga luluhlantakan persawahan (Fhoto : Jasa S Simanullang)_

Akibatnya, para petani kehilangan harapan panen dan terancam kesulitan ekonomi.

Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian besar sawah tertutup lumpur, batu, dan material kayu yang terbawa arus banjir bandang.

Kondisi tersebut membuat lahan tidak lagi memiliki batas petak yang jelas dan saluran irigasi rusak berat.

Petani Harapkan Bantuan Pemerintah 

Salah seorang pemilik lahan terdampak, Nursiti br Situmorang, mengatakan para petani sangat berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah melalui dinas terkait.

Ia pun memohon agar pemerintah memperbaiki atau mencetak ulang lahan sawah yang luluh lantah.

Lahan persawahan yang diterjang banjir bandang dan longsor membawa material batu, tanah dan pohon menutup persawahan hingga tak dapat menghasilkan padai beras (Fhoto : Jasa S Simanullang/Instru)

“Harapan kami, pemerintah dapat membantu cetak ulang sawah dan membangun saluran irigasi agar bisa ditanami lagi,” ujar Nursiti saat ditemui di lokasi, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, tanpa perbaikan menyeluruh, lahan persawahan tersebut tidak mungkin difungsikan kembali.

Padahal, sawah-sawah itu menjadi tumpuan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Para petani terdampak berharap proses perbaikan dapat dilakukan secepatnya agar pada musim tanam tahun depan mereka masih memiliki kesempatan untuk kembali menanam padi dan memulihkan perekonomian keluarga.(JaS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *