Menggali Motif Kematian Armi Siregar di Lapas Pangururan, Sekjen LPKPI: Tak Masuk Akal Hanya karena Pencurian

Keterangan foto: Kalapas kelas III Pangururan, Jeremi Sinuraya. (Ist)

Medan, instrumentasi.com – Sekretaris Jenderal Lembaga Pemberantas Korupsi dan Penyelamat Indonesia (LPKPI), Mei Sartika Sitorus, menilai motif kematian Armi Rinaldo Siregar di Lapas Kelas IIIB Pangururan pada 6 Oktober 2025 tidak logis jika hanya dikaitkan dengan dugaan pencurian.

Menurut Mei, peristiwa yang melibatkan seorang petugas lapas berinisial DCS bersama tujuh narapidana yang menganiaya korban hingga tewas menimbulkan banyak kejanggalan.

“Secara logika umum dan prinsip kriminologi, sangat tidak masuk akal jika kekerasan sebrutal itu dipicu hanya karena alasan pencurian. Seorang petugas mempertaruhkan karier, status ASN, dan kebebasannya untuk hal sepele, itu tidak dapat diterima akal sehat,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Ia menduga terdapat persoalan besar yang berusaha ditutupi di balik kematian tersebut. Indikasi itu terlihat dari keterlibatan bersama antara petugas dan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam tindakan kekerasan terhadap korban.

Dalam sistem pemasyarakatan, kata Mei, hubungan antara petugas dan narapidana bersifat hierarkis. Namun, dalam kasus ini, justru terjadi kolaborasi yang dinilai tidak wajar.

“Fenomena ini menunjukkan adanya simbiosis yang korup. Petugas diduga bergantung pada kelompok dominan di dalam lapas untuk menjaga ketertiban semu,” katanya.

Ia menjelaskan, praktik tersebut kerap terjadi ketika petugas memberikan ruang kepada kelompok tertentu untuk mengendalikan situasi di dalam lapas. Sebagai imbalannya, kelompok tersebut menjaga stabilitas, termasuk menekan pihak-pihak yang dianggap mengganggu.

“Jika korban dianggap mengancam kepentingan kelompok tertentu atau mengetahui praktik ilegal seperti peredaran narkoba, penggunaan ponsel ilegal, atau pungutan liar, maka kekerasan bisa dijadikan alat untuk membungkam,” ujarnya.

Mei juga menilai alasan pencurian tidak sebanding dengan tindakan kekerasan yang berujung kematian. Ia menduga adanya motif pembungkaman terhadap korban.

“Dalam banyak kasus di dalam lapas, kekerasan ekstrem sering berkaitan dengan upaya membungkam. Bisa jadi korban mengetahui praktik tertentu atau berpotensi melaporkan penyimpangan yang terjadi,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan petugas dalam aksi kekerasan tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang yang serius.

“Petugas seharusnya melindungi, bukan justru ikut melakukan kekerasan. Ini bukan sekadar emosi, tetapi menunjukkan adanya penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

Selain itu, Mei juga menyoroti kemungkinan adanya persoalan dalam pengelolaan anggaran di dalam lapas yang berdampak pada kondisi WBP.

Menurutnya, penyimpangan anggaran, mulai dari dana makan, kesehatan, hingga renovasi, dapat memicu ketegangan di dalam lapas.

“Ketika hak-hak dasar narapidana tidak terpenuhi, kondisi menjadi tidak stabil. Dalam situasi seperti itu, kekerasan mudah terjadi,” katanya.

Ia menduga, untuk meredam potensi konflik, petugas dapat melakukan rekayasa sosial dengan memberikan fasilitas khusus kepada narapidana tertentu.

“Kelompok yang diberi fasilitas kemudian berperan mengendalikan situasi, termasuk melampiaskan kekerasan kepada pihak yang dianggap lemah,” ujarnya.

Mei juga menduga adanya kemungkinan keterkaitan dengan persoalan lain, seperti konflik antar narapidana atau dugaan jaringan narkoba di dalam lapas.

Atas dasar itu, ia meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian.

“Penyelidikan harus diperluas, termasuk audit investigatif terhadap anggaran minimal dua tahun terakhir, pemeriksaan narkoba terhadap petugas dan WBP, serta penelusuran aliran dana dan aset pejabat terkait,” katanya.

Ia menegaskan, pengungkapan kasus ini penting untuk memastikan tidak ada pelanggaran yang ditutup-tutupi.

“Kebenaran tidak boleh berhenti pada permukaan. Negara harus menjawab mengapa aparat yang seharusnya melindungi justru terlibat dalam tindakan yang menghilangkan nyawa,” pungkasnya. (Josharius)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *